PENYERAHAN TANGGUNG JAWAB ADMIN

By duwila

PRODUKSI BERBASIS KEMITRAAN


Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam produksi dan nilai ekonomis tanaman kelapa maka pola produksi kemitraan dapatlah menjadi salah satu solusi untuk membantu petani kelapa dalam meningkatkan harga jual dan pembeli / pengusaha untuk mendapatkan produk berkualitas dengan harga yang cocok dan berkesinambungan.

Pola kemitraan yang dijalankan dapat berupa :

  1. system pembinaan kepada petani baik berupa pengarahan pada cara produksi yang baik dan benar atau penerapan teknologi tepat guna oleh pembeli / pengusaha  dan kesiapan petani untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bagi pembeli / pengusaha .
  2. system pembinaan disertai penyertaan modal kerja atau pendampingan  modal dalam produksi ditingkat petani yang nanti hasilnya dibeli kembali oleh pengusaha penyertaan modal.

 

Sistem kemitraan seperti inilah yang diharapkan dapat menjadi alternative bagi para pelaku dibidang agrobisnis tanaman kelapa khususnya di Kabupaten Kepulauan Sula yang selama ini masih berjalan secara terpisah dan terputus antara petani kelapa dan pembeli.

Dengan menerapkan pola kemitraan maka selanjutnya agrobisnis tanaman kelapa ini bisa ditingkatkan menjadi agroindustri yang bertumpu pada kemitraan antara petani kelapa dengan pengusaha produk olahan kelapa. Dengan pola kemitraan yang ada diharapkan akan akan dapat menciptakan lapangan kerja baru yang turut memutar roda perekonomian, menggali dan memberdayakan potensi daerah penghasil kelapa dan lebih utamanya adalah memberikan peningkatan penghasilan bagi petani kelapa dan kelangsungan usaha industry pengolahan kelapa itu sendiri.

Bentuk pola kemitraan

Pola kemitraan yang dijalankan dapatlah dilakukan dengan mengkonversi kedua bentuk pembinaan diatas, yakni pembinaan penerapan teknologi pengolahan dan pembinaan disertai penyertaan modal yang keduanya difokuskan pada peningkatan mutu produksi dan ketersedian bahan baku berkualitas. Langkah sistematisnya adalah :

  1. Membuat pendataan sentra tanaman kelapa berdasarkan persebaran  sesuai letak geogerafis (pulau).
  2. Membuat pendataan petani kelapa yang akan dijadikan mitra binaan
  3. Membuat pendataan jumlah produksi kelapa rata – rata per Sentara produksi untuk menentukan jenis produk kelapa yang akan dihasilkan dan turunannya.
  4. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang tujuan dan rencana usaha untuk jangka panjang
  5. Menentukan jenis produk utama yang akan dihasilkan
  6. Melakukan pembinaaan dalam bentuk pelatihan dan pengenalan cara pengolahan yang baik dan benar
  7. Melakukan kerjasama dalam bentuk pembentukan kelompok kelompok kecil untuk memudahkan managemen usaha dan model pelatihan yang diberikan
  8. Memastikan terlaksananya hubungan kemitraan antara petani kelapa dan pengusaha dengan membuat kesepakatan yang saling menguntungkan
  9. Mengkomunikasikan dan meminta dukungan pemerintah desa setempat dan atau pemerintah kecamatan untuk jaminan kelangsungan usaha serta kenyamanan dalam birokrasi.

Pelaksanaan pola kemitraan dengan system pemberian pelatihan atau pendampingan umumnya dilaksanakan untuk kelompok petani yang mengkhususkan pada produksi kopra. Untuk itu pelatihan yang diberikan adalah cara dan system untuk memproduksi kopra yang berkualitas tinggi yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan baku produk olahan selanjutnya.  

Pengolahan Kelapa Terpadu

Pola kemitraan yang dijalankan dapatlah dilakukan dengan menggabungkan kedua bentuk pembinaan diatas, yakni pembinaan penerapan teknologi pengolahan dan pembinaan disertai penyertaan modal yang keduanya difokuskan pada peningkatan mutu produksi dan ketersedian bahan baku berkualitas. Pada pengolahan Kelapa Terpadu lebih diutamakan  pada aspek bisnis yang berorientasi pada pemanfaatan keseluruhan dari buah kelapa menjadi produk utama dan produk turunan kelapa yang bernilai ekonomis. Pemanfaatan secara keseluruhan dimaksud adalah memanfaatkan daging buah, sabut , tempurung dan air kelapa. Dengan demikian satu buah kelapa dapat dimanfaatkan secara keseluruhan dalam satu usaha pengolahan secara terpadu.   Hal terpenting dalam perencanaan pengolahan kelapa terpadu adalah memperhatikan aspek :

  1. Produk utama yang dihasilkan
  2. Ketersediaan Bahan Baku (buah kelapa)
  3. Jarak sentra produksi buah kelapa dengan pusat pengolahan
  4. Psikologis dan pola pikir masyarakat

Ketiga hal tersebut harus diperhatikan sejak awal pelaksanaan karena ketiganya sangat menentukan dalam proses produksi dan kelangsungan usaha perusahaan secara berkesinambungan.

1.  Produk Utama yang dihasilkan

Dalam pengolahan kelapa terpadu yang diolah adalah keseluruhan buah kelapa sebagai bahan baku, namun yang menjadi produk utama adalah daging buah itu sendiri yang diolah menjadi Minyak Goreng yang memenuhi standar SNI. Dan sisa bahan bakunya yang berupa sabut diolah  menjadi coco fiber dan cocopeat, tempurung diolah menjadi briket dan asap cair serta air kelapa diolah menjadi minuman sari kelapa atau nata de coco.

2. Ketersediaan Bahan Baku

Kelangsungan usaha pengolahan kelapa terpadu sangat ditentukan oleh ketersediaan bahan baku buah kelapa, hal ini mengingat investasi yang ditanamkan pada usaha ini cukup besar dan tentunya secara ekonomis haruslah mencapai titik impas modal yang hanya bisa dicapai dalam jangka waktu tertentu dan diharapkan mencapai profit dalam waktu sesudahnya. Dan semua itu tentu akan melalui tahapan produksi yang panjang dan hanya bisa berjalan kalau didukung dengan jaminan ketersediaan bahan baku

3. Jarak sentra produksi buah kelapa dengan pusat pengolahan

Hal ini merupakan salah satu factor penting dalam penentuan harga beli bahan baku yang sudah tentu akan sangat mempengaruhi biaya produksi secara keseluruhan. Dengan perencanan lokasi pengolahan yang tepat akan meminimalisir biaya dalam perolehan bahan baku. Alternative lain dalam mengantisipasi jarak Sentra produksi kelapa dengan pusat pengolahan adalah pembentukan cabang pengumpulan bahan baku yang memudahkan untuk penampungan dari lokasi – lokasi yang jauh

4. Psikologis dan pola pikir masyarakat

Mengajak masyarakat petani kelapa, untuk perubahan dari kebiasaan membuat kopra dan beralih ke penjualan buah kelapa sudah tentu membutuhkan sosialisasi dan pemahan yang terarah dan tepat untuk dapat menjelaskan kelebihan dan keuntungan dalam system penjualan buah kelapa dibanding pembuatan kopra. Selain itu pula harus diperhatikan aspek social ekonomi yang telah tertanam pada petani kelapa dengan system membuat kopra, yang mana dalam kebiasaannya petani cenderung melakukan transaksi dengan pembeli dalam waktu belum panan atau produksi kopra. Dengan kata lain petani kelapa membutuhkan jaminan kemudahan dalam memperoleh kebutuhan hidup sehari hari diluar masa produksi kopra yang biasanya dalam waktu 3 bulanan sekali produksi.

By duwila

PENGEMBANGAN PRODUKSI KELAPA

Tanaman Kelapa (Cocos nucifera) adalah tumbuhan tropis penghasil lemak nabati yang memiliki keunggulan dibanding tanaman penghasil minyak lainnya. Tumbuhan ini bisa menghasilkan gula (palm sugar), arang tempurung, serat sabut (coco fiber) dan gabus (coco dush/coco peat), serta kayu kelapa yang merupakan bahan meubel bernilai tinggi. Untuk itu sangatlah terbuka peluang dalam pengembangan usaha baik yang berskala home industry maupun yang sudah berskala Industri terpadu.

Untuk Kabupaten Kepulauan Sula, pengembangan usaha pengolahan kelapa yang bias dikembangkan adalah dapat dilakukan dalam skala Home Industri dan Sistem Pengolahan Kelapa Terpadu yang merupakan system atau cara pengolahan kelapa yang dilakukan secara sistemtis, terarah dan terpadu dengan menggunakan teknologi tepat guna.

Pemilihan teknologi tepat guna dimaksudkan agar dapat mengefisienkan penggunaan biaya secara efektif dengan hasil yang maksimal. Hal ini dimaksudkan dengan melihat ketersebaran sentra tanaman kelapa yang terebar secara terpisah dan jarak antar pulau sehingga untuk efisiensi anggaran dan tepat guna maka lebih diutamakan membangun titik titik produksi di 3 (tiga) pulau  dengan lebih dari satu pusat produksi di satu pulau. Misalnya untuk pulau Mangoli dapat dibangun 2 atau 3 titik pengolahan sehingga lebih memudahkan dalam perolehan bahan baku.

Secara umum, yang menjadi tujuan bagi petani kelapa adalah produknya mendapatkan harga yang tinggi dan bagi pembeli untuk pengolahan lanjutan adalah dapat memperoleh bahan baku olahan (kopra) dengan harga yang cocok dan kualitas yang bagus.

Dengan melihat permasalahan diatas maka dalam pengembangan usaha pengolahan kelapa dan peningkatan pendapatan petani kelapa di Kepulauan Sula dapat dibagi menjadi dua kepentingan :

1. Petani Kelapa

Mendapatkan harga yang pantas untuk produk olahannya yang umumnya berbentuk kopra dan mendapatkan jaminan ketersediaan pembeli secara kontinue

2. Pembeli / Pengusaha Produk Olahan Kelapa

Mendapatkan bahan baku untuk produksi seperti Kopra kualitas yang terjamin dan atau mendapatkan bahan baku kelapa secara utuh dengan jumlah yang memadai untuk proses produksi dan harga yang cocok.

Dalam kenyataan yang ada selama ini menunjukan bahwa tidak adanya hubungan yang sinergis antara petani kelapa dan pembeli/pengusaha Produk Olahan Kelapa merupakan factor penyebab permasalahan yang dialami oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu penanganan di sektor perkebunan khusus tanaman kelapa ini seyogianya dilakukan secara sistematis dan sinergis antara petani kelapa dan pembeli/pengusaha produk olahan kelapa sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih bernilai ekonomis dan multiguna bagi kedua belah pihak.

Petani mendapatkan harga yang pantas dan pembeli/pengusaha mendapatkan bahan baku berkualitas dan harga yang cocok, serta produksi untuk kedua belah pihak dapat berjalan berkesinambungan.

By duwila

Permasalahan dalam Pengembangan Pengolahan Kelapa Terpadu dan Kehidupan Petani Kelapa

PERMASALAHAN

 

Dengan melihat perkembangan yang ada, maka yang menjadi permasalahan bagi petani kelapa maupun pengembangan olahan tanaman kelapa di Kepulauan Sula adalah :

  1. Masih rendahnya mutu kopra yang dihasilkan petani
  2. Lokasi persebaran tanaman kelapa yang saling berjauhan dengan pasar tempat penjualan hasil kopra
  3. Ketergantungan Harga Jual pada Pembeli disebabkan adanya ikatan hutang piutang.
  4. Belum maksimalnya pemanfaatan atau tidak adanya diversifikasi produk olahan tanaman kelapa

 

TUJUAN

Tujuan dalam penulisan ini adalah untuk  :

  1. memberikan solusi alternative peningkatan Taraf Hidup Petani Kelapa,  dan
  2. memberikan informasi peluang usaha bagi pelaku usaha untuk menanamkan modalnya dalam pengembangan  home insdustri atau industry Pengolahan Kelapa maupun selaku Pembeli Hasil produk olahan petani kelapa

 

 

MANFAAT

Manfaat dalam penulisan ini diharapkan dapat  :

  1. Perubahan peningkatan Pendapatan Petani Kelapa dengan adanya pemahaman teknologi tepat guna dalam pengolahan kelapa.
  2. Sumber informasi bagi dunia usaha akan potensi Pengembangan Agrobisnis Kelapa di Kepulauan Sula
  3. Memberikan manfaat ekonomi dan sosial  bagi masyarakat petani kelapa dan jaminan ketersediaan bahan baku bagi pembeli/pengusaha.
By duwila

PENGOLAHAN KELAPA TERPADU di Kepulauan Sula

DRAFT
PROPOSAL UNTUK INVESTASI PENGOLAHAN KELAPA TERPADU

Oleh    : ABDURRAHMAN DUWILA

 

 

UMUM

Salah satu kerabat jenis Palem yang paling banyak dikenal adalah tanaman kelapa yang dapat dijumpai baik di dataran rendah maupun dataran tinggi di daerah tropis, pohon kelapa dapat tumbuh dengan baik pada daerah dataran rendah  dengan ketinggian 0 – 450 m dari permukaan laut, sedang pada daerah dengan ketinggian 450 – 1000 m dari permukaan laut, walaupun pohon ini dapat tumbuh tetapi waktu berbuahnya lambat dan produksinya lebih sedikit dengan kadar minyak yang rendah.

Cocos nucifera L  yang merupakan nama ilmiah dari pohon kelapa ini, adalah merupakan pohon yang serba guna karena hamper seluruh bagian dari pohon ini dapat dimanfaatkan  dan mempunyai nilai ekonomis. Mulai dari Buah sampai batang semuanya dapat dimanfaatkan, tinggal bagaimana pemanfaatn teknologi untuk pengolahannya saja.

Dengan persebarannya yang tersebar luas hampir diseluruh pesisir dan hutan tanaman rakyat di Kabupaten Kepulauan Sula menjadikan tanaman ini merupakan komoditi utama bagi hampir sebagian masyarakat petani di Kepulauan Sula.

Tanaman Kelapa yang tersebar secara merata di pesisir pulau sulabesi, pulau mangoli dan pulau taliabu adalah jenis varietas Kelapa Dalam yang berbatang tinggi dan besar kadang dapat mencapai 30 m  atau lebih, jumlah areal 175.821,6 ha produktiv (diatas usia 10 tahun) dan rata – rata produksi 293.036.000 butir per bulan (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kepulauan Sula, 2010)

Dari jumlah tersebut diatas hanyalah merupakan jumlah areal tanaman kelapa Produktiv saja yang sudah berumur diatas 10 tahun, sedangkan yang dibawah umur 10 tahun belum dilakukan pendataan. Meski demikian, data tersebut menunjukan potensi yang patut dikembangkan untuk pengembangan tanaman kelapa ini sebagai sentra produksi penopang ekonomi rakyat di Kepulauan Sula.

Dengan tingkat produktivitas tersebut, hampir 99 % buah kelapa di olah menjadi Kopra dan di jual ke pedagang pengumpul di Ibu Kota Sanana atau ada sebagian yang langsung menjualnya ke luar daerah (Manado, Bitung dan Luwuk) sedangkan sisasanya hanyalah untuk konsumsi rumah tangga dan dijual di pasar dalam bentuk butiran.

Kopra yang dihasilkan oleh masyarakat petani kelapa di Kepulauan Sula umumnya Kopra  hasil Pengasapan Langsung dengan waktu pengasapan yang cepat sehingga yang menghasilkan kopra dengan mutu  yang rendah dan harga jula ayang kurang bersaing.

Tidak adanya pengembangan teknologi tepat guna sehingga menjadikan masyarakat petani kelapa hanya bergantung pada fluktuasi harga minyak mentah dunia yang sangat mempengaruhi harga jual kopra mereka. Selain itu, dengan tingkat kesulitan transportasi dan budaya rentenir telah menjadikan kehidupan petani kelapa selalu terpojok dan tidak mengalami peningkatan taraf hidupnya.

Secara keseluruhan  petani kelapa di Kepulauan sula sangat mendambakan adanya perhatian pemerintah ataupun swasta yang dapat membantu petani dalam hal ketersediaan Pembeli (kopra)  dengan harga yang layak serta peranan pemerintah atau swasta dalam mengupayakan teknologi tepat guna sehingga petani kelapa dapat lebih meningkatkan pendapatannya dari hasil pengolahan kelapanya.

Melihat perkembangan yang ada maka sangatlah terbuka peluang bagi investor atau pelaku bisnis untuk berperan dalam mengembangkan usaha di daerah ini selain dalam hal tujuan ekonomi perusahaan juga akan mempunyai dampak sosial yang positif terhadap masyarakat petani kelapa itu sendiri.

 

By duwila